Self Talk

Blackout

Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Saat otak nggak bisa berpikir dengan jernih. Saat kamu nggak bisa fokus mengerjakan sesuatu. Kamu bahkan nggak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirimu sendiri. Kamu bahagia dengan duniamu. Kamu menikmati semua momen yang kamu alami saat itu. Namun, tidak seperti itu yang dirasakan hatimu. Logika mungkin saja berkata ini adalah kondisi ideal yang sudah kamu impikan bertahun-tahun lalu. Tapi, tanpa kamu sadari mimpi itu mulai bergeser. Hati itu sudah tidak lagi sama. Ya, kamu merasa mulai asing dengan hatimu. Inilah masa di mana kamu merasa logika dan hati berjalan berlawanan. Tiba-tiba semua terasa gelap. Blackout, gelap total, di mana kamu nggak bisa melihat setitik pun cahaya.

Selamat, kamu memasuki zona patah hati!

Pada fase yang satu ini, kamu sudah tidak lagi di tahap penyangkalan kalau sedang jatuh cinta dengan seseorang. Kamu sudah mengakuinya, dengan segenap hatimu bahkan. Tapi, di saat yang bersamaan juga kamu patah hati. Seketika itu juga. Tanpa sempat kamu merasakan rona indah dari perasaan itu. Kamu langsung jatuh dengan parahnya.

Blackout

image copyright by mermaidofthelake.com

Sayangnya, kamu sedang dalam masa penyangkalan kalau sedang patah hati. Logikamu berkata kalau kamu sedang baik-baik saja. Kamu bahkan melakukan banyak hal untuk mempertahankan kondisi yang kamu pikir baik-baik saja ini. Sebagian dari mereka yang mengalami keadaan tersebut lebih memilih fokus dengan pekerjaan. Tiba-tiba menjadi workaholic tanpa di sadari. Kantor menjadi salah satu tempat ternyaman di mana pikiran disibukkan oleh banyaknya deadline dan pekerjaan. Hari libur pun tetap bergelut dengan pekerjaan yang serasa nggak ada habisnya. Kamu mendadak menjadi takut jika nggak memiliki kesibukan apapun. Takut dengan pikiranmu sendiri. Atau lebih tepatnya, takut dengan hatimu sendiri.

Kamu berusaha dengan keras mempertahankan pikiran agar tetap waras. Kamu jadi sangat keras pada dirimu sendiri. Sekilas, kamu mungkin merasa lebih kuat dari yang sebenarnya. Padahal, perasaan itu semu. Nyatanya, kamu nggak baik-baik saja. Terluka parah malah.

Seiring dengan penyangkalan yang ada, semakin kuat pula bayangannya memenuhi kepalamu. Hanya bayangan. Dia sudah tidak ada di sisimu lagi, tapi seolah jejaknya masih berserakan di mana-mana. Kamu bahkan bisa melihatnya mengikuti ke manapun kamu pergi. Semua lagu yang didengar selalu mengingatkanmu padanya. Kamu bahkan melihat sosoknya saat bertemu orang asing lain di tengah jalan. Tawanya seakan ikut menggema bersamaan dengan tawamu yang mengalir. Kamu mulai menyadari ada yang nggak beres dengan kondisi tersebut.

Blackout image copyright by 7-themes.com

Fase ini masih diperparah dengan kehadirannya di alam bawah sadarmu. Saat kamu terjaga, mungkin kamu bisa melupakannya dengan baik. Tapi, dia yang menjadi subyek patah hatimu seperti nggak pernah kehabisan akal. Perlahan tapi pasti dia mulai merayap memasuki mimpi-mimpimu pada suatu malam. Hal tersebut pun terulang di malam-malam berikutnya. Mimpi indah tentangnya yang membuatmu sedih seketika saat terjaga. Karena kamu sadar kalau itu hanya mimpi. Karena kamu sadar kalau dia tidak ada di sampingmu. Karena kamu sadar kalau itu nggak lebih dari sebuah mimpi buruk. Mimpi yang paling buruk. Kamu jadi takut untuk tidur. Karena kamu takut akan kembali bertemu dengannya di dalam mimpi. Lagi-lagi, kamu menyakiti diri sendiri.

Seperti itulah kira-kira gambaran yang terjadi saat kamu mengalami patah hati. Meyakinkan diri kalau baik-baik saja padahal kenyataannya sangat berbeda. Fase di mana kamu berusaha menguatkan diri, tapi yang terjadi kamu justru melukai dirimu sendiri lebih keras. Dengan sangat parahnya.

Fase desperate selanjutnya adalah ketika kamu mulai menerima kenyataan kalau kamu memang patah hati. Kali ini nggak ada penyangkalan. Kamu bahkan menerimanya dengan lapang dada. Dengan harapan kalau kamu bisa berdamai dengan rasa sakitnya. Kamu pun berpikir mungkin harus menyakiti diri sendiri dengan lebih keras untuk menyadarkan bahwa sakit karena patah hati nggak seberapa. Sedikit menempa diri dengan lebih keras nggak masalah, asalkan kamu bisa keluar hidup-hidup dari fase ini dan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya. Setidaknya, itulah yang kamu yakini. Paling tidak, kamu masih memiliki rasa optimis di tengah pesimis yang menyelimuti.

Blackout image copyright by incareofdad.com

Kamu pun belajar berpikir lebih simpel, dengan harapan beban itu perlahan terangkat. Harapannya sih tentu saja hati jadi lebih ringan karena kamu mulai berusaha berdamai dengan konflik yang sedang terjadi.

Dan kamu akan menganggapnya sebagai sosok asing yang hanya lewat. Dia hanya lewat dalam hidupmu. Karena pada kenyataannya pun dia hanya singgah sejenak sebelum pergi kembali. Kemudian menghilang begitu saja. Hanya jejaknya yang tercecer dalam pikiranmu. Kamu pun meyakinkan diri bahwa dia hanya sekadar lewat. Dia yang hanya lewat biasanya nggak akan kembali. Kecuali takdir berkata lain.

Takdir.

Selalu ada alasan mengapa bukan kamu yang ditakdirkan untuknya. Perlahan kamu pun mulai bahagia, karena sosokmu yang tidak sempurna tak perlu repot-repot masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya. Dia tidak perlu terlibat konflik hati dengan kamu yang nggak sempurna. Kemudian kamu akan masuk ke dalam tahap ini. Tahap di mana kamu berharap dia bahagia dengan hidupnya yang tentu saja tanpa ada kamu di dalamnya. Kamu berharap dengan sangat sangat sangat keras. Kamu bahkan mungkin rela menghabiskan sisa hidupmu hanya untuk mendoakan kebahagiaannya yang tanpa ada kamu di sana. Meskipun kamu sendiri nggak yakin kalau hatimu bisa kembali pada tempatnya yang semula.

Di titik inilah mungkin kamu sudah berusaha ikhlas dengan apa yang dirasakan. Kamu patah hati dan ikhlas menerimanya. Konyol memang, tapi inilah hidup. Penerimaan akan membuat semuanya berjalan lebih mudah. Kamu nggak perlu susah-susah bertarung dengan diri sendiri. Cukup terima dengan lapang dada, berdamai dengan hati. Berusaha memunguti kepingan hati yang berceceran entah di mana. Menyatukannya kembali. Kemudian membuka diri lagi, membahagiakan diri sendiri. Karena kamu tahu, kamu lebih mencintai dirimu lebih dari siapapun.

Jadi, segelap apapun blackout yang kamu alami, kamu tetap akan menemukan jalan di mana kamu bisa kembali pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s