Self Talk

Heart of The Matter

Heart of the matter. Masalah hati seakan nggak pernah ada habisnya. Sepertinya baru kemarin kamu mengalami momen jatuh cinta yang penuh penyangkalan lalu patah hati secara tiba-tiba. Semua terjadi hanya dalam satu waktu yang sangat cepat. Tanpa ada jeda. Tanpa memberimu kesempatan untuk berhenti sejenak dan mengambil napas. Namun, itu ternyata belum selesai. Ada satu perasaan lagi yang kini seperti mencengkeram hati yang belum sepenuhnya utuh kembali.

Kamu mulai merindukannya.

Kerinduan ibarat suatu bentuk perasaan tanpa batas. Kamu mungkin mengenal banyak orang, tapi dari sekian banyak itu, hanya beberapa persen saja yang benar-benar akan kamu rindukan. Biasanya orang-orang itu adalah mereka yang paling dekat denganmu, bukan secara fisik, tapi lebih merujuk pada hati. Dan perasaan yang satu ini ibarat sebuah ikatan tanpa akhir. Bisakah seseorang berhenti merindukan orang lain tanpa melalui suatu pertemuan? Bahkan bertemu saja belum tentu bisa menuntaskan rasa tersebut. Ikatan yang berkesinambungan. Dan itu terasa annoying saat kamu merindukan orang yang salah. Atau mungkin kamu yang salah karena merindukannya.

heart of the matter image by stylonica.com

Sayangnya, kamu memilih untuk merindukannya secara diam-diam. Rindu tanpa suara. Mungkin bisa dikatakan kalau kamu bahkan nggak memiliki keberanian untuk menyimpan perasaan yang satu itu. Apalagi untuk bilang langsung padanya kalau kamu merindukannya, kamu sangat nggak berani. Jadi, kamu lebih memilih untuk merindukannya dari jauh. Tanpa berusaha untuk menjangkaunya. Karena kamu tahu, sedikit saja percakapan dengannya bisa membuat rindu itu terungkap begitu saja. Padahal, kamu nggak ingin dia tahu kalau kamu merindukannya.

Iya benar. Kamu sangat berharap dia tidak perlu tahu. Inilah yang membuat kamu memutuskan untuk menyimpannya rapat-rapat. Dia tidak perlu tahu semua isi hatimu. Dia tidak perlu tahu apa yang kamu rasakan. Karena kamu sudah memilih untuk mendorongnya keluar dari hidupmu. Yang tersulit bukanlah saat kamu memutuskan, tapi justru bertahan dengan keputusan yang kamu ambil dan menanggung semua konsekuensinya. Kamu memutuskan untuk mendorongnya keluar, dan konsekuensinya kamu merindukan kehadirannya. Adil, kan?

Seiring berjalannya waktu pun, orang-orang akan berubah. Sama seperti kamu. Begitu pun dia. Kamu pun yakin dia pasti akan berubah, suatu saat nanti. Mungkin kamu belum siap menerima hal itu. Diam-diam kamu masih berharap dia tetap sama seperti yang kamu kenal dulu. Intinya kamu nggak siap melihatnya berubah. Intinya kamu hanya egois. Jadi, inilah alasan mengapa kamu nggak berani menjangkaunya. Karena lebih baik kamu tidak melihatnya berubah saat perubahan itu ada.

heart of the matter

image by : img06.devianart.net

Intinya, kamu hanya sedang merindukannya. Dari jauh. Tanpa berani bersuara.

Kali ini kamu nggak bisa berdamai dengan perasaanmu. Kamu hanya menerimanya begitu saja. Merasakannya. Menjalaninya dalam diam. Kamu tetap bahagia karena kamu tahu kamu selalu bahagia dengan hidupmu. Meskipun nggak semua orang bisa bahagia selalu. Kamu tahu ada perbedaan mendasar antara ‘senang’ dan ‘bahagia’. Tapi kamu mensyukuri semua perasaan yang kamu alami. Setidaknya kamu pernah bahagia mengenalnya dan menghabiskan waktu bersamanya.

Jadi, kini saatnya menjalani kehidupanmu. Mungkin sudah waktunya untuk melepas semua rasa yang tertinggal. Melepasnya. Membiarkannya terbang di udara. Bukan melupakannya. Kamu hanya melepaskan harapan dari semua ketidakmungkinan yang ada. Lalu menyimpan sisa perasaan itu jauh di dasar hatimu yang paling dalam. Menyembunyikannya dari dunia. Membukanya kembali ketika kamu ingin, dan menutupnya rapat saat sudah waktunya kamu berinteraksi dengan realita.

heart of the matter
image by popomypics.com

Pada akhirnya, kamu berharap untuk tidak bertemu dengannya lagi. Tidak, selama kamu hanya berani menyimpan perasaan itu diam-diam. Namun jika takdir berbaik hati, kamu berharap ada satu di antara ruang dan waktu yang akan datang di mana kalian bisa bertemu lagi. Jika hal itu terjadi, kamu hanya ingin jadi orang yang berbeda. Bukan sosok yang hanya berani merindukan secara diam-diam. Dan semua hanya pengandaian di antara seribu ketidakmungkinan.

Jadi intinya, rindu itu indah hanya jika kamu bisa menikmatinya. Selamat malam, selamat bertarung dengan rindu yang tak tersampaikan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s