Self Talk

Everglow

Judul ini sebenarnya diambil dari single terbaru Coldplay di album studionya ketujuh yang berjudul A HEAD FULL OF DREAMS. Tulisan ini pun terinspirasi dari lagu tersebut, terlintas begitu saja saat saya mendengarkan dan menghayati lirik lagunya. Saat itu saya sedang mengedit news musik yang menceritakan kisah lagu ini. Heartfelt and heartbreaking, itu pikiran pertama yang terlintas saat mendengarkan sekaligus membaca cerita tentang bagaimana Chris Martin menciptakan lagu tersebut. Dan pada saat itu juga, saya langsung jatuh cinta sama single band asal Inggris yang satu ini.

Garis besar Everglow ini sendiri menceritakan tentang suatu hubungan, entah itu cinta sepasang kekasih, keluarga, atau persahabatan, yang pada akhirnya harus berakhir. Ini memang curhat Mas Chris tentang perceraiannya dengan Mbak Gwyneth yang ayu itu. Dan dia merasa ‘everglow’ adalah perasaan yang dialami setiap orang yang baru saja melalui momen kesedihan dalam hidup mereka. Simak cerita behind the song selengkapnya di Everglow, Ungkapan Hati Chris Martin yang Menyentuh ini, yuk!

Jadi intinya ini adalah farewell song yang manis dari dua orang yang pernah hidup bersama. Manis sih saya pikir, terlebih karena suara Mbak Gwyneth yang lembut muncul di backsound lagu itu. Hampir di keseluruhan lagu kamu bisa mendengar latar suara lembut dari sang mantan istri mengiringi kuatnya vokal Mas Chris. Hal ini menunjukkan meskipun keduanya sudah bubar sebagai pasangan, tapi mereka tetap menjalin hubungan baik. Nggak semua mantan pasangan bisa berlaku demikian.

vintage-love-heart-romantic-7565

Dari situ, saya mulai memikirkan konsep tentang mencintai dan meninggalkan. Saat kamu jatuh cinta dengan seseorang, memutuskan untuk bersama dalam ikatan tertentu, melewati momen menyenangkan bersamanya, tapi sekaligus harus bertahan saat menghadapi masa-masa sulit. Krisis dalam hubungan. Kemudian mengerucut pada dua pilihan, tetap berada di tempat yang sama atau meninggalkan semuanya.

Nggak semua pasangan bisa bertahan dalam badai hubungan tersebut. Kalau pun ada yang sanggup bertahan hingga berpuluh-puluh tahun dalam sebuah ikatan sakral yang namanya pernikahan, selalu ada alasan di baliknya. Selalu ada pengorbanan lebih untuk membayar status quo yang ada. Kalau memang dilandasi rasa sayang dan pengertian sih, rasanya masih masuk akal. Masih mungkin terjadi.

Tapi banyak kok pasangan yang tetap bertahan meskipun sering terlibat konflik. Tetap memilih bertahan, padahal sudah masuk ke dalam ranah hubungan yang nggak sehat. Bertengkar setiap hari atau terlibat dalam ‘perang dingin’ yang seolah nggak kunjung usai. Tapi anehnya, masing-masing nggak ada yang berniat untuk keluar dari konflik tersebut. Mereka tetap bersama, padahal sudah jelas-jelas nggak ada lagi kehangatan di dalamnya. Mungkin karena masing-masing sudah nyaman dengan “status” yang ada, lalu merasa hampa jika “status” itu berubah. Padahal, nggak ada kebahagiaannya. Mereka hanya takut keluar dari comfort zone yang sebenarnya kalau dipikir-pikir nggak nyaman sama sekali.

White cup with heart shapes over vintage wooden background

Kalau hubungan sudah seperti ini, saya masih berpikir jauh lebih baik berpisah daripada tetap bersama. Saya sih secara pribadi lebih menghargai mereka yang berani memutuskan untuk berpisah dan mengakhiri hidup yang penuh pertengkaran. Daripada bersama tapi yang ada hanya saling benci? Lagipula, hubungan yang nggak sehat itu juga mempengaruhi kenyamanan orang di sekitarnya.

Jadi intinya, saya mengapresiasi perpisahan Mas Chris dan Mbak Gwyneth, tapi lebih salut lagi karena ternyata hubungan mereka bisa jadi lebih baik setelah tidak lagi hidup bersama.

Mencintai dan meninggalkan, dua konsep yang saling berlawanan. Logikanya, saat kamu mencintai seseorang, kamu akan terus bertahan untuk berada di sisinya. Berjuang untuk mendapatkan tempat di sisinya meskipun harus saling gencet dengan banyak orang. Namun, banyak juga yang memilih untuk meninggalkan. Saat kamu merasa tempat itu sudah terisi oleh orang lain yang sulit digeser. Jadi, normalnya kamu akan memilih mundur lalu mencari pelabuhan hati yang lain.

7035911-love-photography

Mencintai pun bisa jadi sesuatu yang semu bagi sebagian orang. Sesuatu yang bahkan tidak bisa mereka lihat seperti apa ujungnya. Satu contoh, saat kamu menjalin hubungan jangka panjang dengan seseorang. Saking lamanya kalian bersama dan melalui proses adaptasi yang mahadahsyat, kalian jadi saling mengerti satu sama lain. Kalian sudah seperti teman baik yang tidak terpisahkan. Kalian bisa saling terbuka dengan apa saja, menceritakan hal-hal yang jarang kamu bagi dengan orang lain selain pasanganmu. Kalian sering bertengkar dengan hebat hingga sama-sama lelah, tapi selalu berdamai dengan mudah dan memulai semua dari awal. Dari sini, kamu pasti yakin kalau kalian adalah pasangan yang tepat karena bisa saling mengisi satu sama lain. Kamu dengan bangganya percaya kalau hubungan kalian kuat, karena berbagai pertengkaran sehebat apapun itu tetap tidak pernah memisahkan.

Lalu kesadaran lain tiba-tiba hadir, yang kemudian memunculkan pertanyaan yang bahkan sulit terjawab. Benarkah kamu memang mencintainya? Atau hanya karena sudah terbiasa bersama, sudah menjadi seperti teman lama, sehingga dengan kondisi hati seperti apapun kamu tetap bisa bertahan dengannya?

Cerita cinta semu lainnya pun muncul. Saat dua orang saling bertemu dalam sebuah perjalanan, pertemuan singkat yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Lalu keduanya tetap meneruskan perjalanan. Kamu dengan hidupmu, dia dengan hidupnya. Tapi kamu seolah tidak bisa menjauh darinya. Kamu berusaha menggapainya dengan beragam cara. Berusaha dengan keras karena merasa tidak bisa lepas darinya. Namun, semua cara itu pun sifatnya semu. Karena kamu masih melalui perjalanan lain di mana tidak ada dia di dalamnya. Tapi kamu tahu seberapa besar arti kehadirannya buatmu. Semu, tapi sangat berarti.

vintage-love-photography-tumblr-27-for-desktop-background

Jadi pada akhirnya, hubungan antara manusia sebenarnya semu. Tidak ada yang abadi. Kamu bisa saja mengharapkan seseorang tertentu yang menantimu di ujung jalan itu, tapi nggak ada jaminan kalau kalian akan selalu bersama dan bahagia. Kadang berpisah lebih baik daripada tetap bersama sambil saling menyakiti. Kadang memutuskan bertahan selama apapun belum tentu bisa diartikan sebagai tanda kamu cinta mati dengannya. Dan kadang mereka yang saling mencintai pun harus saling meninggalkan karena merasa berada di path perjalanan yang berbeda.

It’s a feeling of ever, everglow

Advertisements

18 thoughts on “Everglow

  1. terus mungkin gk karena ada orang ke 3?
    apakah harus melihat orang ke 3 tanpa harus melihat perjuangan mati matian terhadap orang pertama?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s