Pieces of Work

Welcome To The Content Writer’s World!

Menulis menjadi salah satu hobi yang disukai bagi kamu yang memiliki daya imajinasi tinggi. Sebagian mungkin hanya iseng melakukannya saat galau dengan gebetan, lalu menuliskannya dalam sebuah diary pribadi. Kesannya sepele sih, sedikit alay juga bagi beberapa orang. Namun, tahukah kamu kalau kemampuan ini bisa dikembangkan menjadi salah satu career path kamu di masa depan?

Ada banyak pekerjaan sebagai seorang professional writer yang bisa kamu pilih, mulai dari menjadi penulis fiksi, script writer, redaktur majalah, content writer dan masih banyak lagi alternatif lainnya. Saya sendiri baru satu setengah tahun ini berkecimpung dalam dunia kepenulisan secara profesional, lebih tepatnya sih dalam bidang content writer. Jadi, tugas dari content writer ini adalah mengisi konten sebuah website tertentu dengan materi sesuai dengan yang diminta klien.

Saya sendiri memasuki bidang ini tanpa disengaja, tapi lama-lama saya menganggap pekerjaan ini asyik. Menjadi seorang content writer menuntut kamu untuk memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang apapun. Sebenarnya nggak sulit kok, karena kamu bisa mencari tahu banyak hal lewat internet. Tapi kamu memang nggak bisa memilih artikel mana yang kamu kuasai atau tidak, karena kamu mengerjakannya sesuai dengan permintaan klien.

business-women-with-laptop-810x456

Content writer memang menyadur artikel asing dari internet, tapi jangan dipikir menyadur itu mudah, lho. Selain kamu harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus, kamu juga harus bisa menuliskannya kembali jadi artikel baru yang berbeda dengan artikel sumber. Menyadur itu bukan translate. Kamu harus bisa menuliskannya sesuai dengan bahasa website klien dengan baik. Jadi, saya menganggap kalau semua orang mungkin bisa menulis, tapi nggak semua orang bisa menjadi penulis konten dengan baik.

Awal bekerja dulu, saya pernah mengisi konten tema parenting. Yang jelas, tema ini cukup rumit. Ada sederet rules yang perlu diperhatikan agar tulisannya tidak menimbulkan pemahaman yang kontroversi. Lalu saya juga pernah mengedit artikel tema sepak bola, yang sama sekali saya nggak paham. Tapi semua bisa berjalan dengan baik kalau memang mau belajar dan mencari tahu.

Sebagian besar tulisan yang saya edit sendiri lebih pada tema fashion dan lifestyle. Saya sendiri mulai jatuh cinta dengan bidang fashion, padahal awalnya nggak tahu apa-apa dalam dunia yang satu ini. Menulis artikel fashion ternyata harus rinci. Kamu nggak bisa menyebutkan baju dengan menulis “baju” begitu saja, tapi juga harus disebutkan modelnya atau potongannya. “Cocktail dress selutut yang memiliki potongan bodycon dengan aksen halter akan tampak memikat jika dipadukan dengan leather pump shoes cantik”. Barulah jadi sebuah artikel fashion.

summer-fall-new-women-font-b-fashion-b-font-font-b-runway-b-font-font-b

Masuk dalam dunia kepenulisan profesional pun menuntut kamu untuk terus mengeksplor kemampuan menulis. Hal ini penting supaya karya yang dihasilkan nggak stagnan. Banyak membaca jadi kuncinya. Jangan gara-gara kamu sudah sukses mengisi konten sebuah website tertentu, lalu kamu jadi malas membaca. Saya pribadi lebih sering membaca situs lifestyle lokal dan juga majalah fashion. Selain bisa untuk refreshing, kadang kamu bisa mendapatkan inspirasi tema dari sana. Kamu juga bisa memperkaya perbendaharaan kata untuk artikelmu nanti.

Nah, jadi editor dalam bidang mode atau kecantikan kadang juga bisa meracuni pikiran, lho. Jujur, dulu saya tergolong orang yang cuek kalau soal penampilan. Karena kantor saya juga nggak menuntut harus dandan, itu ibarat surga tersendiri buat saya. Ke kantor pun asal pakai kaos melar atau yang sudah belel. Hal ini berlangsung hampir setahun, sampai suatu ketika saya mulai penasaran dengan banyaknya gaya fashion yang sering saya ulas dalam artikel. Lalu, saya mulai bertanya, “seperti apa sih personal style yang aku punya?”. Ini dia, dari sini mulai bongkar lemari dan ternyata koleksi wardrobe yang saya punya monoton banget. Lalu mulai sering cek online shop, memilih pakaian yang sesuai dengan karakter saya, dan menghabiskan uang ke situ.

Sudah mirip fashion editor? 😂😂 #dating #matos #ootd

A post shared by Wuri Anggarini (@wurianggarini) on

Penting nggak penting sih kalau hal yang satu ini. Tapi, fashion itu juga bisa menjadi simbol identitas seseorang. Jadi, saat kamu mengaku menjadi seorang fashion editor, kamu harus bisa menunjukkan sense of fashion yang kamu miliki lewat personal style. Nggak mesti dengan barang mahal atau yang lagi booming, lho. Poinnya adalah keunikan, apa yang membedakanmu dengan wanita lainnya dari segi fashion yang dikenakan.

Dari pengalaman menjadi fashion editor ini, saya sekarang punya mimpi untuk memperdalam dunia fashion ini lalu masuk ke dalam jenis pekerjaan kepenulisan lainnya. Mungkin yang akan saya coba selanjutnya adalah menjadi fashion writer di sebuah majalah. Let’s give it a try!

Well, itu tadi sekilas tentang dunia content writer yang selama ini saya geluti. So, do you think you want my job?

Advertisements

8 thoughts on “Welcome To The Content Writer’s World!

  1. postingan mbak sgt memotivasi, semoga ketidaksengajaan jatuh cinta menulis berlaku juga utk saya, sprti hebatnya mbak sekarang 🙂 salam kenal mbak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s