Self Talk

Jakarta, The Beginning of A Twisted Journey

Ada satu hal yang menarik buat saya selama berada dalam sebuah perjalanan. Satu hal yang seolah memicu adrenalin, membuat lebih bersemangat, dan menciptakan keinginan untuk terus berada dalam momen tersebut. Hal sederhana yang mungkin nggak berarti bagi orang lain, tapi membuat saya merasakan percikan kebahagiaan kecil yang indah dalam hati. Hal sederhana itu adalah memandangi jalan. Melihat dunia luar yang berbeda dari apa yang biasa saya temui sehari-hari. Memandang dari kejauhan aktivitas orang-orang yang saya lewati, sambil memikirkan apa yang mereka lakukan dan bagaimana perasaan mereka saat itu. Sesuatu yang membuat saya asyik bercengkerama dengan pikiran sendiri.

Saya termasuk penikmat solo traveling. Alasannya sederhana sih, karena saya nggak mau direpotkan menyamakan antara keinginan orang lain dengan apa yang saya mau. Saya pikir langkah kaki saya terasa lebih ringan jika bisa pergi ke tempat mana pun yang ingin saya capai sendirian. Mungkin terdengar egois, tapi inilah sensasi perjalanan yang sebenarnya, menurut versi saya.

Meskipun demikian, saya termasuk orang yang nyaris tidak pernah liburan. Dulu saya masih jadi mahasiswa kere yang hanya mengandalkan keuangan pas-pasan dari orang tua. Padahal banyak waktu luang yang sepertinya ideal dihabiskan untuk liburan ke destinasi tertentu. Sayangnya, saya belum sanggup saat itu. Lalu setelah lulus kuliah dan bekerja, giliran saya yang nggak punya waktu. Yaa, walaupun sebenarnya nggak punya waktu itu seharusnya bukan jadi alasan. Saya sering sih pergi ke luar kota sendirian, tapi itu pun terbatas di kota yang dekat dengan domisili saya dan nggak bisa dikatakan liburan. Namun, hal itu tetap nggak menyurutkan antusiasme saya untuk menikmati perjalanan singkat yang bukan liburan itu. Lalu melakukan kegiatan sederhana yang membuat saya merasa bahagia.

Kemudian, tibalah satu kesempatan di mana saya bisa melakukan perjalanan yang sedikit jauh dari tempat tinggal saya. Lagi-lagi ini bukan liburan. Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan panggilan interview di sebuah perusahaan mobile phone di Jakarta. Membayangkan akan pergi ke Jakarta membuat jantung saya berdegup nggak karuan. Rasa senang karena mendapat panggilan yang selama ini saya nantikan tentu saja muncul, tapi yang paling menjadi motivasi untuk berangkat adalah karena saya akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Sendirian. Ini adalah rekor perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan seumur hidup, seorang diri.

BeautyPlus_20151218200626_save

Jakarta sendiri pernah menjadi bagian dari masa kecil saya, bertahun-tahun yang lalu, sebelum akhirnya pindah ke kota lain di daerah Banten, dan kemudian menetap di Malang sejak sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang. Jadi, melakukan perjalanan ke Jakarta ibarat a nostalgic journey buat saya. Bisa merasakan atmosfer perjalanan malam hari sambil mengamati suasana di luar dunia saya. Rasanya pasti akan berbeda. Jujur saja, saya merindukan perjalanan malam hari dengan bis malam antar provinsi, sesuatu yang dulu sering saya lakukan saat kecil, setidaknya setahun sekali.

Perjalanan ini memang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi memberikan banyak hal yang bisa dikatakan membuka wawasan dan pandangan saya tentang hidup. Hidup saya sendiri tentunya. Banyak orang dan hal yang saya temui yang kemudian membuka pandangan saya tentang kehidupan. Bisa dikatakan juga, perjalanan ini sedikit mengubah hidup saya dalam beberapa hal.

Saya tiba di Jakarta pukul dua dini hari, di mana saat itu hari masih sangat gelap dan saya nggak tahu apa-apa sama sekali tentang kota ini. Karena saya baru akan dijemput jam 7 pagi, jadi saya hanya menunggu saja di stasiun Pasar Senen bersama ratusan orang lain. Duduk di emperan stasiun dan berkenalan dengan seorang wanita yang berasal dari Jawa Tengah. Dia sudah bekerja di kota metropolitan ini selama tiga tahun. Setelah obrolan singkat yang nggak sampai lima menit itu, dia menggelar sebuah kain di sebelah tempat saya duduk dan tidur di atasnya. Bukan hanya dia, tapi juga banyak orang lainnya yang menunggu pagi tiba sambil merebahkan diri di lantai stasiun. Saya yang lelah dan mengantuk pun akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Tidur di emperan stasiun. Di Jakarta. Pada dini hari. Bukan pengalaman yang indah pastinya, tapi saya sangat antusias saat mengalaminya. Aneh.

Beberapa jam kemudian, itulah pertama kalinya saya melihat atmosfer Jakarta di pagi hari. Saat itu jalanan masih lengang, entah karena masih pagi atau karena hari itu bertepatan dengan libur 17 Agustus. Setelah 10 tahun berpisah dari kota itu, saya kembali melihat suasana ibu kota. Sepanjang jalan saya melihat deretan gedung bertingkat berdiri dengan anggunnya. Saat itulah saya seakan memiliki sebuah keyakinan dalam diri. Ada suatu rasa percaya dalam diri bahwa saya akan kembali tinggal di kota ini, menjadi bagian dalam arus urbanisasinya, bergelut dengan padatnya populasi ibu kota, dan menyatu dengan gaya hidup modern kota metropolitan. Saat itu juga saya yakin bahwa saya akan berhasil dalam wawancara kerja yang akan dilakukan keesokan harinya.

jakarta_skyline_by_judhi

Lalu jadwal interview itu pun tiba. Inilah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di kawasan Mega Kuningan, yang dikenal sebagai lokasi bisnis di mana banyak perkantoran prestisius. Salah satu yang saya lewati adalah gedung The East, lokasi studio Net TV, yang menjadi salah satu wishlist tempat saya bekerja sejak kuliah dulu. Saya merasakan semangat yang begitu luar biasa, semacam naluri kalau saya akan segera menjadi bagian di dalamnya dalam waktu dekat. Mungkin inilah yang namanya rasa optimisme.

Interview itu pun berjalan dengan lancar sesuai harapan. Saya sangat tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan, yaitu menjadi bagian digital marketing dari sebuah perusahaan smartphone. Namun, saat itu saya merasa ada satu hal yang kurang maksimal, dan entah mengapa hal itu membuat saya sangat down. Saya juga tidak tahu, mungkin karena saya membawa begitu banyak harapan dari orang di sekitar selama pencarian nasib ini. Saya merasa gagal begitu saja, padahal hasilnya sendiri baru akan dikabari seminggu kemudian. Jadi, malam itu saya hanya merenung di dalam kamar hotel, sendirian, sambil memandangi Monas yang terlihat dari jendela kamar. Waktu itu saya mungkin merasa payah, tapi ternyata proses tersebut menjadi sebuah pelajaran yang luar biasa di kemudian hari.

Acara keesokan harinya saya isi dengan jalan-jalan sendiri. Pesan Go Jek dan minta di antar dari satu mall ke mall lainnya sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta di sore hari. Oke, ini mungkin kegiatan paling boring yang pernah ada. Tapi percayalah, saya selalu melaluinya dengan sangat antusias.

Salah satu alasan mengapa saya suka melalui perjalanan seorang diri adalah bisa bertemu dengan orang lain, berkenalan, dan saling berbagi cerita. Ada tiga orang yang memberikan kesan begitu mendalam pada saya selama petualangan singkat ini. Tiga orang yang ceritanya hingga kini masih begitu terekam dengan baik dalam ingatan saya yang membuat hati terasa hangat ketika mengingatnya kembali.

Orang pertama adalah seorang driver Go Jek. Mungkin hal ini terasa absurd bagi sebagian orang, karena percakapan dengan seorang pengemudi ojek online sepertinya nggak ada istimewanya. Jadi, ini adalah pengalaman pertama saya naik Go Jek dan kebetulan saya mendapat driver yang sangat ramah. Saking ramahnya, saya menganggap dia cerewet. Dia seorang pria yang usianya sedikit lebih muda dari saya dan baru bergabung dengan ojek online tersebut selama tiga hari. Kami bercerita banyak hal, sebenarnya dia yang mengawali percakapan dengan mengajukan banyak sekali pertanyaan pada saya. Perjalanan dari kawasan Mega Kuningan ke daerah Pasar Baru terasa nggak membosankan sama sekali. Dalam waktu sesingkat itu, saya rasa kami sudah berbagi banyak hal. Tapi lucunya, kami bahkan tidak bertanya nama masing-masing. Satu informasi krusial yang dengan mudahnya dilupakan orang saat mengalami pertemuan sesaat dengan seseorang lainnya.

Lalu orang kedua adalah seorang pria yang duduk di sebelah saya di kereta saat perjalanan pulang dari Jakarta ke Malang. Pria ini beberapa tahun lebih dewasa dari saya. Awalnya kami hanya saling diam, karena saya sedang sibuk bekerja dengan laptop ketika dia pertama kali duduk di sebelah saya. Tanpa saya duga sebelumnya, sebuah pertanyaan singkat seperti “Turun di mana, Mas?” yang saya ajukan pertama kali ternyata bisa menggulirkan obrolan menyenangkan hingga malam hari. Kami bercerita banyak hal, kali ini porsinya lebih banyak dari pengemudi Go Jek sebelumnya. Kami bahkan tahu nama masing-masing, meskipun hal tersebut saya tanyakan setelah obrolan berjalan sangat jauh. Obrolan ini sebenarnya ringan, tapi membuka pola pikir saya tentang banyak hal. Saya merasa sangat nyambung dengan si Mas yang turun di Madiun tersebut. Lalu kami berpisah dalam tidur, dan keesokan harinya saat saya terbangun kursi sebelah sudah kosong. Hmm, saya rasa inilah sensasinya bertemu dengan seseorang yang asyik di sebuah perjalanan. Pertemuan sekali yang sangat menyenangkan.

Lalu sampailah pada orang yang ketiga. Orang terakhir yang saya temui dalam perjalanan mencari masa depan di Jakarta. Sebenarnya kami tidak bertemu secara langsung. Kami sudah saling mengenal sebelumnya, tapi tidak akrab. Saya yang tidak pernah ingin mengakrabkan diri dengannya. Tapi saat saya di Jakarta, itulah pertama kali kami mengobrol cukup lama via chat. Tanpa pernah saya duga sebelumnya, hal itu juga yang menjadi awal dari keakraban kami yang terjalin kemudian.

Saya masih ingat dia mengungkapkan bentuk kekagumannya karena saya berani ke Jakarta seorang diri, yang menurut saya sebenarnya nggak ada yang luar biasa dari hal tersebut. Kami tidak banyak mengobrol pada saat itu. Tapi, justru ini mengantarkan kami pada chat yang seolah tanpa akhir di hari-hari berikutnya.

Saya banyak mengenalnya lewat chat dengan topik obrolan yang seolah nggak ada habisnya. Dari situ saya mulai menilai bahwa dia pria yang lucu, kekanakan, bertindak sesuai intuisi, dan jujur. Kejujuran ini mungkin salah satu hal yang menyentuh perasaan saya. Dia sangat jujur dengan perasaannya. Dia nggak pernah ragu mengungkapkan jika sedang merasa senang, jatuh cinta, kecewa, hingga marah. Dalam kurun waktu singkat saat saya mengenalnya, saya hampir melihat semua pergolakan emosi tersebut. Tapi meskipun demikian, dia adalah orang paling carefree yang pernah saya kenal. Emosinya hampir tidak terlihat. Jika kamu nggak mengenalnya, kamu pasti akan meragukan kesungguhannya. Padahal, saat itu mungkin saja dia kecewa karena kamu meragukannya. Tapi dia selalu terlihat carefree. Sikap inilah yang seolah membuat saya ingin bisa menjaganya. Perasaan cukup aneh yang saya rasakan pada orang yang baru saja saya kenal.

Dari keinginan aneh itulah, tanpa saya sadar saya mulai terikat secara emosional dengannya. Lalu kedekatan itu menimbulkan suatu perasaan lain yang sulit dipahami. Mungkin sudah bisa ditebak juga sih. Ya, saya merasa jatuh cinta dengan dia, lalu tanpa sadar menariknya masuk ke dalam sebuah labirin di mana kami tidak pernah tahu jalan keluarnya. Kami saling jatuh cinta. Sebuah perasaan indah bagi kebanyakan orang. Tapi jadi hal yang begitu menyiksa buat saya karena mencintai dia.

Rasanya masih membekas dalam kenangan, sore itu, saat kami mengobrol santai dalam sebuah kafe. Ini kedua kalinya kami keluar bersama, berdua, dan entah apakah itu bisa dibilang kencan atau bukan. Lalu saya mengarahkan obrolan pada pertanyaan sederhana, tapi cukup mengena. Tentang perasaannya. Tentang bagaimana dia menganggap saya selama ini.

Saya masih ingat emosi yang bergejolak dalam hati saat memberanikan diri bertanya hal tersebut. Saya tahu pasti, hubungan baik kami sebagai teman bisa berubah detik itu juga saat saya sudah membahas hal tersebut. Ketika itu, yang ada dalam pikiran, saya ingin dia berbohong, atau mengatakan hal berlawanan dari yang saya kira. Lalu kami akan mengalami sebuah situasi kikuk yang nggak mengasyikkan lagi. Setelah itu, kami akan saling melupakan satu sama lain. Lalu perasaan itu pun berhenti sampai di situ.

Tapi kenyataannya nggak seperti itu. Dia mengungkapkan perasaannya yang paling jujur, dengan penuh ketegasan. Saya bisa melihat kesungguhan di matanya saat itu. Aneh sih, tapi saya pikir momen itulah yang justru membuat saya yakin kalau saya jatuh cinta dengannya.

Saya tidak lama mengenalnya, hanya sekitar enam minggu sejak kami benar-benar dekat. Setelah itu dia pergi menuju jalan lain dalam kehidupannya. Namun di waktu yang sesingkat itu, saya bisa merasakan kalau ada chemistry yang sangat nyata tercipta di antara kami. Dan, bisakah saya bilang kalau saya merasa bahwa dia adalah soulmate saya?

Mengutip tulisan Ollie dalam bukunya Passport To Happiness, “If you can meet your soulmate, the love of your life, for only a moment, what would you do? Would you take the chance?”. Kalimat ini berserta cerita pendek London Calling yang Ollie tulis sepertinya agak mirip dengan kondisi saya saat ini. Saya merasa sudah bertemu dengan soulmate saya, meskipun hanya dalam satu bagian kecil saja di hidup saya. Kami saling jatuh cinta, menikmati waktu berdua yang menyenangkan. Namun, kami menghabiskan waktu bersama hanya untuk saling meninggalkan.

BeautyPlus_20151218200509_save

Ini jadi pertanyaan besar juga buat saya. Saat ini, saya dan dia masih berada dalam perjalanan yang berbeda. Betapa pun kuatnya perasaan yang kami rasakan, saat ini kami masih melalui path yang berbeda. Entahlah, saya masih belum tahu ending seperti apa yang akan saya temui di ujung jalan itu.

Jadi, perjalanan singkat ke Jakarta itu memberikan banyak hal baru dalam hidup saya. Saat itu saya baru sadar kalau saya lebih berani dari yang saya kira. Dan betapa membahagiakannya bisa melalui sebuah petualangan seorang diri secara mandiri. Akhirnya saya memang diterima di perusahaan tersebut, saya memang bisa ke Jakarta seperti keyakinan saya saat itu. Tapi, atas beberapa pertimbangan tertentu dan offering lain yang saya terima di tempat saya bekerja saat ini, saya memutuskan untuk tetap stay di pekerjaan saya sekarang. Saya nggak menyesal. Saya mendapat pengalaman berharga dari wawancara tersebut. Jakarta mungkin akan menjadi tujuan saya nanti, saat saya benar-benar siap untuk menempa diri lebih kuat dari saat ini.

Pada intinya hidup adalah sebuah perjalanan. Bahagia atau tidak, tergantung bagaimana kamu menyikapi semua hal yang terjadi. Masa depanmu berada di dalam tanganmu, dalam setiap keputusan yang kamu ambil. Perjalanan yang saya lewati pun masih belum selesai. A journey to find true love. Hal yang paling membahagiakan dari petualangan ini adalah karena keberanian saya untuk melakukan perjalanan tersebut ternyata mengantarkan saya pada banyak hal, pengalaman dan sebentuk cinta yang baru. Meskipun cinta itu sifatnya klise, pada akhirnya saat ini pun kami tidak bersama. Tapi, nggak ada satu pun yang saya sesali dari proses tersebut. Setiap kenangan itu indah dan masih terasa sangat nyata di dalam hati.

Lalu, apakah saya bisa bertemu dengannya lagi? Apakah pada akhirnya ada sebuah persimpangan di mana kami bisa bertemu kembali? Tidak ada yang tahu, tidak ada yang benar-benar tahu.

Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi giveaway Passport to Happiness yang diadakan Gagas Media. Yuk, ikutan serunya giveaway dengan menceritakan kisah perjalananmu yang paling membahagiakan dan menangkan smartphone keren dari Acer! Cuz intip facebook page Gagas Media, yuk!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s