Self Talk

Firasat

Saya sedang bermain dengan firasat beberapa hari ini. Saya sendiri belum pernah mengalami pengalaman magis yang menciptakan suatu isyarat atau pun firasat. Mungkin juga termasuk tipe orang yang nggak percaya dengan keberadaan hal-hal semacam itu. Lalu saya merasa seolah semesta sedang menguji saya. Mempermainkan saya. Hingga akhirnya saya mengalami suatu kejadian yang mungkin saja itu merupakan sebuah firasat. Isyarat alam agar saya tidak terlalu angkuh untuk meragukan hal-hal yang sifatnya magical. Tapi tetap saja, itu terlalu ‘ajaib’ buat saya.

Bicara kata ajaib, tadi sore saya mengalami sebuah kejadian sederhana yang cukup unik. Saat jam pulang kantor sudah lewat beberapa menit, seorang teman yang terbiasa berjalan kaki dan kadang jalan bareng saya, pulang. Entah kenapa saya sedang ingin punya teman jalan, jadi saya meminta dia untuk menunggu sebentar. Tapi, dia yang memang cuek malah meninggalkan saya yang masih mematikan PC. Saya nggak menyerah, jadi segera menghambur keluar begitu selesai beres-beres. Saat di luar, ternyata teman saya sudah berjalan cukup jauh, tidak terkejar. Saya tetap berusaha jalan cepat, tapi dia sudah berada di ujung jalan raya dan saya melihatnya menghilang. Sementara saya masih tertinggal jauh di belakang.

Oke, mungkin masih belum jodoh untuk bisa jalan bareng sambil mengobrol dengan seorang teman sore tadi. Nggak masalah. Saya ingin cepat pulang saja. Begitu hampir tiba di jalan raya, saya pun tertinggal angkot pertama yang lewat. Lalu, saya melihat ada angkot yang nggak jauh ada di belakang, saya pun hampir berjalan ke arah angkot tersebut. Tiba-tiba seseorang memanggil saya.

Bapak. Saya bertemu Bapak yang baru pulang kerja juga. Lalu mengajak saya pulang bareng naik motornya. Saya tahu, kami sama-sama tahu, kalau saya tidak membawa helm. Tapi Bapak meyakinkan kalau itu bukan masalah. Saya pun percaya kalau itu bukan masalah, meskipun saya tahu, di perempatan beberapa ratus meter di depan, biasanya ada polisi lalu lintas yang siaga. Sebelum saya naik motor, tiba-tiba hujan turun. Bapak menepi untuk memakai jas hujan. Jadilah saya yang nggak pakai helm bersembunyi di balik jas hujan bapak. Aman. Kami sampai di rumah dengan selamat.

Saya pun berpikir saat di jalan. Mungkin ini yang namanya jodoh. Kadang, rencana yang sudah diatur sedemikian rupa dan sesempurna mungkin di awal, nggak selamanya akan memberikan hasil seperti yang kita inginkan. Tuhan selalu punya skema. Lalu alam semesta bekerja sama untuk membantu mewujudkannya. Saya yang memiliki niat awal pulang bersama teman, mencari teman bercengkerama singkat di sore yang mendung, ternyata justru bertemu Bapak. Teman bercakap-cakap hingga tiba di rumah. Lucu, menurut saya ini lucu.

Lalu pikiran saya berkelana pada kejadian beberapa minggu lalu, saat saya sedang berada dalam perjalanan antar kota di suatu malam. Saat itu hujan turun. Saya baru saja pulang dari suatu kota, dengan suatu tujuan, dan dengan hati yang penuh oleh berbagai pilihan-pilihan dengan beragam kemungkinan yang akan saya terima. Saat membuka salah satu akun sosial media, saya melihat status dari salah seorang teman. Teman lama yang sudah lama tidak bercerita. Dia menulis sebuah lirik lagu yang saya kenal, sebuah lirik panjang. Follow The Light dari Travis. Saya tahu lagu itu, hanya tidak pernah tahu bagaimana liriknya.

Saya menangkap isinya adalah tentang kebimbangan. Bagaimana semua orang pasti pernah merasakan kebimbangan dalam hidup, entah dalam konteks apapun itu. Dan ada sebait liriknya yang cukup menyentil saya.

But it’s alright, just follow the light

And don’t be afraid of the dark

In the moonlight, you’ll dance till you fall

And always be here in my heart

Follow the light. Sesederhana itu. Saya berusaha mencernanya. Mencari tahu maknanya, lalu mencari ‘cahaya’ yang bisa menuntun saya dalam lorong gelap yang sedang saya lalui.

Beberapa hari kemudian, datang sebuah chat dari seseorang. Seseorang yang rasanya sudah seabad sejak terakhir saya berbincang dengan menyenangkan bersamanya. Seseorang yang rasanya baru kembali dari negeri antah berantah. Dia, si empunya status Follow The Light tadi. Dan entahlah itu merupakan isyarat apa, saat itu saya sama sekali tidak mau berspekulasi tentang apapun.

Obrolan singkat yang canggung pagi itu. Lalu terhenti begitu saja. Tapi ternyata tidak selesai sampai di situ. Seolah seperti sedang berusaha memulai kembali apa yang terpaksa terhenti di masa yang sudah lampau. Sampai di sini, saya masih belum meyakini adanya suatu isyarat apapun dari yang sedang terjadi.

Kemudian tiba pada malam itu. Malam di mana dia bilang kalau mendapat firasat akan kehilangan sesuatu. Saya memang belum pernah mengalami isyarat magis macam ini, tapi saya tahu, kata-katanya menyiratkan kalau dia merasa akan kehilangan sesuatu yang berharga buatnya. Firasat itu menuntunnya untuk menunggu saya menghubungi dia. Dan memang benar saya menghubunginya malam itu. Kami berbincang banyak hal, mungkin itu pertama kalinya setelah jeda waktu yang cukup panjang sejak kami tidak saling menyapa. Dari sini kami sama-sama tahu, memang benar, mungkin dia akan kehilangan sesuatu.

Paginya, giliran saya yang merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Tapi saya tidak begitu memedulikan perasaan aneh itu. Saya dan dia sempat bertegur sapa dengan canggung paginya. Singkat. Lalu saya menjalankan hari seperti biasa. Tapi perasaan saya semakin tidak karuan. Aneh, pikiran saya begitu terfokus padanya. Lalu ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk menghubunginya lewat sebuah chat. Tidak ada jawaban. Saya merasa ada sesuatu yang terjadi padanya. Sesuatu yang cukup besar. Saya hanya tidak tahu apa itu. Saya khawatir tanpa sebab. Bimbang tanpa tahu sebuah jawaban pun.

Malamnya, dia membalas pesan saya. Dan mengatakan bahwa dia sedang di Jakarta. Untuk alasan yang hingga saat ini belum sempat dikatakannya. Mungkin saya tahu apa yang dilakukannya di sana. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat mengetahui hal tersebut. Terkejut bukan main yang jelas. Tapi bukan itu yang membuat saya terguncang. Dia mungkin sedang mempertaruhkan sesuatu yang besar untuk menukarnya dengan hal lain yang dirasa akan hilang darinya.

Tapi ada hal lain yang membuat saya semakin nggak karuan.

Firasat itu. Mungkin saya baru saja merasakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s