Self Talk

Speak Out! Menyingkap Fakta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Awalnya sih nggak ada niatan untuk membuat tulisan yang temanya lumayan ‘berat’ seperti ini. Ada satu tema yang sudah saya persiapkan selama kurang lebih dua minggu ini, tapi belum ada waktu untuk menuliskannya. Dan tiba-tiba saja sore tadi sewaktu sedang menyenandungkan lagu Til It Happens To You milik Lady Gaga, inspirasi untuk menulis bahasan ini muncul. Lalu saya pikir, mengapa nggak sekalian dieksekusi saja?

Lagu ini sendiri merupakan original soundtrack dari sebuah film dokumenter berjudul THE HUNTING GROUND. Filmnya sendiri menceritakan tentang kekerasan seksual yang terjadi dalam kehidupan kampus. Sebuah tema yang sebenarnya ada di sekitar kita, tapi nggak semua orang mengetahui hal tersebut.

Speak Up! Menyingkap Fakta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Copyright: goldderby

Akhir-akhir ini isu kekerasan seksual memang sepertinya sedang jadi ‘tren’ yang ramai dibicarakan. Selain yang beredar di kalangan artis, berbagai postingan viral pun banyak beredar di dunia maya. Masalah ini juga banyak kok terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masyarakat Indonesia masih menganggap hal ini sebagai sebuah isu yang tabu untuk dibicarakan. Akibatnya, hanya sedikit dari sekian banyak kasus yang terlaporkan.

Kira-kira sekitar tahun 2011 yang lalu, saya magang di sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang kekerasan terhadap perempuan dan anak milik pemerintah Jawa Timur. Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan (PPT Jatim) ini menangani para perempuan dan anak korban kekerasan dalam rumah tangga, yang memberikan bantuan baik dari segi psikis, materil hingga pelayanan hukum. Banyak hal yang saya pelajari selama magang di sana, yang membuat mata saya ‘terbuka’ dengan fenomena yang ada. Kekerasan pada perempuan dan anak ternyata sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa kita sadari.

Kekerasan seksual memang salah satu dari sekian banyak jenis kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak. Korban kekerasan pun seakan nggak memiliki keberanian untuk melaporkan tindakan yang baru saja mereka terima. Selain rasa malu dan efek trauma, ancaman dari pelaku pun sering membuat mereka merasa takut. Kebanyakan korban yang melapor pun bukan atas kemauan mereka sendiri, tapi karena ada orang sekitar mereka yang ‘peka’ dan memiliki keinginan untuk membantu. Nah, di sinilah peran kita sebagai anggota masyarakat untuk ikut mengawasi dan memperhatikan orang di sekitar kita, setidaknya di awali dengan orang terdekat yang tinggal dalam rumah yang sama.

Bentuk kekerasan seksual sendiri ada banyak, mulai dari kontak fisik seperti meraba, menyentuh organ seksual, hingga hubungan seksual dengan paksaan. Sekecil apa pun bentuknya, kamu yang mengalami tindakan seperti ini berhak untuk membela diri dan mendapatkan pembelaan yang layak.

Sewaktu magang dulu, ada dua anak korban kekerasan seksual yang tinggal di shelter yang disediakan oleh PPT Jatim. Saya nggak begitu ingat berapa usia mereka saat itu, tapi kalau nggak salah, yang satu masih menginjak usia anak-anak, yang satu sudah hampir memasuki masa remaja. Dampak psikologis yang dialami tentu saja berbeda satu dengan lainnya. Si anak yang masih kecil jadi sangat trauma, takut dengan orang asing terutama laki-laki, dan sangat pendiam. Sementara si anak yang hampir remaja terlihat tumbuh seperti anak normal pada umumnya. Namun, menurut cerita pembimbing lapangan saya di sana, si anak remaja itu kerap ‘merayu’ penjaga shelter laki-laki yang bertugas di malam hari. Rayuan yang sudah menjurus pada minta ‘ditemani’.  Padahal, dia adalah korban perkosaan ayah tirinya selama bertahun-tahun lamanya. Tidak, jangan men-judge si anak remaja ini. Inilah yang namanya dampak psikologis seseorang.

Speak Up! Menyingkap Fakta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Copyright: Irishtimes

Kekerasan seksual pun bisa terjadi di mana saja. Jangan kamu pikir tindakan tersebut hanya terjadi di tempat sepi saja. Lokasi umum yang ramai pun bisa menjadi tempat si predator dalam melancarkan aksinya. Dan saat kamu mengalami hal ini, merasa hampir menjadi korban atau sudah menjadi korban, bicaralah. Lawan mereka. Jangan merasa malu dengan kondisimu, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi padamu. Kamu terlalu berharga untuk mendapatkan perlakuan seperti itu dan kamu BERHAK mendapatkan pembelaan yang layak. Banyak lembaga bantuan hukum yang memang mengabdikan diri untuk membantu korban-korban kekerasan seperti ini.

Iya, mungkin kesannya bicara seperti ini mudah, tapi pada praktiknya memang nggak semudah itu. Sangat tidak mudah.

Tell me what the hell do you know,
What do you know
Tell me how the hell could you know,
Ho
w could you know

Till it happens to you, you don’t know
How it feels

 

Sama seperti video klip Til It Happens To You dan lirik lagunya, kamu nggak akan pernah tahu rasanya sampai kamu benar-benar merasakannya. Ini benar banget. Lady Gaga bahkan baru saja mengaku kalau dia pernah menjadi korban kekerasan seksual saat remaja setelah menyimpannya sendiri selama bertahun-tahun tanpa ada satu pun dari keluarganya yang tahu. Kenyataannya, trauma psikis memang menjadi senjata yang ampuh melumpuhkan korban agar tidak sanggup melawan dan bungkam sepanjang hidupnya.

Setidaknya, itu yang saya rasa sih.

Beberapa kali, saya pernah menerima pelecehan seksual di tempat umum. Bukan, Alhamdulillah bukan sampai yang tergolong kategori berat. Tapi sudah beberapa kali yang berawal saat SMA. Waktu itu saat berangkat sekolah, oleh seorang pria asing yang awalnya meminta tolong saat saya melewati jalanan sepi di daerah dekat rumah saya. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat saya merasa nggak nyaman dan saya pun memutuskan untuk lari. Panik dan takut. Selama beberapa minggu memutuskan untuk nggak lewat jalan itu dan berangkat sekolah lebih siang dari biasanya. Beberapa tahun kemudian saya baru tahu kalau itu sudah tergolong bentuk pelecehan seksual. Damn!

Yang terakhir, saat saya naik bis dari Malang ke Surabaya jam 3 dini hari. Beberapa tahun lalu, saat saya mendapat panggilan interview di Surabaya dengan jadwal jam 7 pagi. Saya naik bis sendirian, tapi kondisi bis sangat ramai dengan orang-orang yang berangkat kerja. Di sebelah saya duduk seorang bapak-bapak yang terlihat wajar awalnya, mengajak mengobrol dan sebagainya. Tapi lama-lama dia mulai mencondongkan tubuh ke arah saya saat pura-pura tertidur. Saya bilang berpura-pura karena tangannya begitu ‘aktif’ meraba-raba tubuh saya. Meskipun tahu dia berbuat sesuatu yang sifatnya melecehkan, tapi lagi-lagi saya masih takut untuk berteriak. Jadi saya hanya menyingkirkan tangannya dengan kasar sambil berusaha melindungi tubuh saya dengan tas punggung yang saya bawa. Tidak bisa pindah ke mana-mana karena kondisi bis yang penuh.

Kejadian-kejadian itulah yang bikin saya sampai sekarang terlalu takut pulang sendiri di malam hari dengan kendaraan umum dan terlalu curiga dengan orang asing yang tiba-tiba menunjukkan sikap baik. Kesannya terlalu negative thinking. Tapi melindungi diri itu perlu, apalagi jika kamu wanita yang saat berjalan melewati sekelompok pria nganggur saja bakal mendapatkan siulan iseng yang mengganggu. Tentang perilaku saya yang agak absurd ini,  pernah ada seorang teman yang dengan entengnya nyeletuk seperti ini pada saya:

“Makanya, jangan terlalu menyerahkan urusan dunia sama manusia. Serahkan sama Tuhan. Yang penting niatnya baik, masalah dia nanggepin gimana itu urusannya.”

Hey, kalian yang nggak tahu konteksnya lebih baik diam saja lah. Selalu ada alasan di balik perilaku manusia. Nggak sesederhana itu. Yang bilang itu anak sosial pula. Itu, teori psikologi behaviorisme yang udah dipelajari, cuma sekedar numpang lewat aja ya?

Tapi menurut saya sih, di antara kasus kekerasan seksual yang dilakukan orang asing di jalan, mungkin yang efeknya lebih traumatis secara mendalam adalah jika pelakunya orang yang kita kenal dengan baik. Bahkan kita percaya kalau dia adalah orang yang sangat baik. Ditambah dengan image agamis yang dibawa yang semakin meyakinkan kalau dia adalah orang yang ‘hampir suci’. Tapi, bagaimana kalau ternyata dia sangat tega melakukan sesuatu yang lebih menjijikan daripada orang asing yang kamu temui di jalan? Kalau korbannya orang yang masih sangat polos sih, atau orang yang bukan tergolong kategori ‘suci’ seperti si pelaku, mengadu sama siapapun mungkin nggak ada yang percaya. ‘Hanya melihat sekilas’, nggak mungkin si pelaku tega melakukan hal tersebut karena sehari-harinya dia selalu membicarakan ayat-ayat suci, rajin mendatangi pengajian, bahkan menjadi salah satu orang yang dianggap bijak di antara teman-temannya. Sementara si korban adalah tipe orang yang sebaliknya. Siapa yang mau percaya sama korban?

Nah, contoh seperti inilah yang sering membuat kasus kekerasan seksual nggak pernah terekspos dengan terbuka. Judgement masyarakat sering melumpuhkan kekuatan korban untuk melawan. Kadang malah seringnya disalahkan, padahal dia adalah korban. Hey, siapa sih yang mau jadi korban kekerasan seksual?

Setidaknya dari contoh nyata tadi, kita bisa belajar membuka mata dan sudut pandang sih, kalau bukannya nggak mungkin Saipul Jamil benar-benar melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur meskipun kesehariannya dia terlihat sangat religius. Bukan nggak mungkin. Oke, skip Saipul Jamil.

Speak Up! Menyingkapn Fakta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Copyright: jakarta.go.id

Jadi, intinya adalah, siapapun kamu, apapun jenis kekerasan seksual yang kamu alami, jika kamu adalah korban, jangan takut untuk melapor. Segera setelah kamu mendapatkan perlakuan kekerasan, datangi pos polisi terdekat saat itu juga. Tanpa perlu membersihkan diri, mandi, atau berganti pakaian, segera melapor agar bukti fisik masih bisa terdeteksi. Jika nggak berani ke kantor polisi sendirian, setidaknya kamu harus bilang sama orang terdekat yang bisa dipercaya. Dan sebagai anggota masyarakat yang peduli, kita harus peka dan bersedia membantu para korban baik dari segi fisik, materi maupun psikis.

Ingat, jika kamu adalah korban, jangan takut untuk melawan. Kamu sangat berharga dan berhak mendapatkan pembelaan yang layak. IT’S NOT YOUR FAULT!

Mari sama-sama membuka mata dan perspektif diri tentang fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak ini. Jika bukan dari kita sendiri yang memulainya, siapa lagi?

 

*Anyway, lagunya Lady Gaga yang satu ini bagus banget sih menurut saya. Mungkin karena komposer utamanya adalah Diane Warren yang sudah dikenal dengan masterpiece lagu-lagu seperti How Do I Live milik LeAnn Rimes hingga When I See You Smile yang jadi hits Bad English. Tapi, Gaga sendiri juga ikut mengaransemen dan membawakannya dengan penuh totalitas. Sayang, lagunya kalah hits dengan Writing’s On The Wall-nya Sam Smith di Oscar 2016 kemarin. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s