Self Talk

Mimpi, Jembatan Spiritual Antara Imajinasi dan Realita

Beberapa bulan ini saya sedang memiliki semacam proyek yang dilakukan saat sedang senggang. Saya menyebutnya sebagai Proyek Membaca. Kegiatan yang satu ini sifatnya sangat individual dan lebih pada keinginan diri sendiri agar lebih produktif saat senggang. Harapannya sih, dengan melakukan Proyek Membaca secara rutin selama beberapa bulan ke depan, saya bisa melanjutkannya dengan Proyek Menulis. Sejauh ini perkembangannya nggak jelek-jelek amat sih, sebulan kemarin saya berhasil menyelesaikan beberapa puisi dan satu cerpen yang nyaris selesai.

Buku yang sedang saya jadikan materi dalam Proyek Membaca sesi ini adalah serial SUPERNOVA karya Dee Lestari. Meskipun serial pertamanya sudah lahir sejak beberapa belas tahun yang lalu, tapi jujur saya belum pernah menyentuhnya sama sekali. Baru awal tahun ini ada keinginan untuk membaca semua serinya, seiring dengan buku terakhirnya yang memang terbit tahun ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli bukunya lengkap. Dan mulailah Proyek Membaca saya untuk session yang pertama.

Saya pikir, melahap habis SUPERNOVA jilid 1-6 membutuhkan waktu lama. Awalnya saya kira butuh minimal 6 bulan untuk benar-benar menamatkan kumpulan karyanya Dee ini. Ternyata, hanya sekitar 2 bulanan saja saya sukses merampungkan novel tersebut. Membacanya perlahan-lahan tapi intensif saat sedang di angkot, antri dokter, di sela waktu kerja di kantor, dan yang paling banyak menyita waktu pastinya sebelum tidur, buku itu akhirnya selesai juga.

Saya sendiri terpikat dengan rangkaian ceritanya yang terjalin dengan sangat harmonis, meskipun ada beberapa poin yang menurut saya kurang mudah dipahami dengan logika sederhana karena terlalu masuk ke ranah spiritual yang mendalam. Dari keempat tokoh utamanya, Elektra jadi yang paling favorit buat saya. Tapi, jalan cerita buku kelima, GELOMBANG, yang paling menyita perhatian saya.

Akhirnya lengkap @wtrihantoro 😁😁 #supernova #deelestari

A post shared by Wuri Anggarini (@wurianggarini) on

GELOMBANG sendiri bercerita tentang seorang pria bernama Alfa yang selalu mendapatkan mimpi buruk sejak kecil sehingga dia merasa tidur adalah pertaruhan hidup dan matinya. Selama 12 tahun dia berusaha untuk tidak tidur di malam hari hingga suatu kejadian membuatnya berusaha mencari tahu tentang makna mimpi yang dialaminya tersebut. Dalam buku ini sendiri diceritakan kalau mimpi yang dialami Alfa bukanlah bunga tidur biasa seperti yang umumnya dikenal oleh masyarakat. Mimpi Alfa lebih pada perjalanan nyata menuju dimensi lain di mana dia memiliki sebuah misi tertentu.

Apa yang menarik perhatian saya tentu cerita tentang mimpi itu sendiri. Sejak kecil, saya sering mengalami mimpi random aneh yang memancing keingintahuan saya tentang bagaimana proses mimpi itu bisa terjadi. Tafsir tentang mimpi manusia sebenarnya sudah berusaha diterjemahkan secara tradisional oleh berbagai budaya dalam masyarakat kuno. Interpretasi yang dilakukan merujuk pada kebudayaan tempat mereka tinggal. Misalnya saja pada masyarakat Tibet yang menjadikan mimpi sebagai sebuah metode pengobatan untuk mengobati berbagai macam penyakit dan fobia. Atau pemahaman yang dipercaya oleh masyarakat Parintintin yang tinggal di daerah sungai Madeira, Brazil, yang memaknai mimpi sebagai jembatan komunikasi antara manusia dengan arwah leluhur.

Studi tentang mimpi secara ilmiah pun sudah dilakukan oleh banyak tokoh yang bergelut dalam bidang psikologi. Freud, misalnya, berusaha menafsirkan mimpi dari kacamata psikoanalisisnya sebagai refleksi dari alam bawah sadar manusia. Menurut bapak psikologi yang satu ini, otak manusia berusaha melindungi pikirannya dari berbagai hal yang sifatnya “merusak” atau “mengganggu”. Jadi, mimpi adalah cerminan dari pikiran yang selama ini direpresikan secara otomatis oleh sistem dalam tubuh kita. Dan saat tidur, alam bawah sadar seakan berusaha menggerakkan pikiranmu untuk mengingat hal apapun itu yang kamu kubur lewat sekelebatan visual, yang kadang masih bisa kamu ingat saat terjaga, kadang juga tidak.

dreaming-books

Meskipun ada penjelasan ilmiah tentang mimpi itu sendiri, tapi hubungan antara mimpi dan realita tetap menjadi salah satu yang problematis. Beberapa orang membiarkannya tetap berada di tataran imajinatif karena dialami saat mereka sedang berada dalam kondisi tubuh yang tidak sadar. Namun, nggak sedikit juga yang menjadikan mimpi sebagai pengalaman empiris pribadi, karena sensasi tertentu yang dirasakan saat bermimpi. Bisa jadi apa yang dia lakukan, percakapan yang terjadi dalam mimpi, atau bahkan emosi yang dirasakan saat kondisi tersebut benar-benar nyata terasa hingga mereka terjaga. Mimpi dan realita seakan tidak memiliki batas yang benar-benar tegas karena apa yang mereka alami benar-benar terasa riil. Di level inilah, kamu sudah menganggap bahwa mimpimu bukan lagi sebatas bunga tidur, tapi sudah masuk ke dalam level spiritual.

Saya sendiri bukan termasuk penikmat teori konspirasi yang mengarah pada dunia spiritual, tapi memang benar pengalaman empiris tentang mimpi yang pernah saya rasakan membuat saya memandang mimpi sebagai sesuatu yang istimewa. Misterius dengan segala sisi magisnya. Bertahun-tahun lalu, saya pernah bermimpi bertemu dengan seseorang yang belum saya kenal saat itu. Seorang pria. Perawakan dan ciri-ciri tubuhnya sangat saya ingat dengan baik, bahkan  pakaian yang digunakan. Hanya wajahya saja yang tertangkap dengan samar. Ada rasa familiar yang saya alami selama proses tersebut. Percakapan yang saya lakukan dengannya seakan membawa pesan tertentu. Saya ingat mimpi itu dengan baik hingga akhirnya saya lupa pernah memimpikan sosok itu. Sekitar satu atau dua tahun lalu saya baru ingat mimpi itu kembali. Dan baru tersadar, saya sudah bertemu dengan orang yang saya impikan saat itu, ciri-ciri yang sama persis hingga pakaian yang dimilikinya sama dengan pria yang ada dalam mimpi saya. Aneh.

Mimpi demi mimpi yang saya alami membawa saya pada sebuah pengalaman yang lebih aneh lagi. Suatu hari, saya memimpikan seseorang yang saya kenal. Seorang teman biasa. Memimpikan teman secara random sudah jadi hal yang biasa buat saya, tapi sosok spesifik yang satu ini membuatnya jadi pengalaman yang nggak biasa. Ada semacam emosi yang ikut terlibat di dalamnya, saat saya sedang bermimpi, dan mengakar dalam diri hingga saya terjaga. Emosi yang tidak biasa, seperti tiba-tiba mimpi itu menjebol sebuah personal space yang sengaja saya buat untuk membatasi diri antara saya dengan orang lain, termasuk dengan sosok itu. Dan yang lebih aneh lagi, mimpi itu terulang lagi di malam berikutnya, bukan dengan cerita yang serupa tapi menghadirkan sosok yang sama. Emosi yang terjadi pun juga sama, tapi lama-lama saya mulai paham dengan perasaan itu. Seperti kamu sudah menemukan sesuatu dalam mimpi, lalu ketika sadar dan terjaga kalau itu hanya mimpi, kamu langsung merasa kehilangan.

girl_waterfall_dress_river_stones_96946_1920x1080

Entah itu masuk dalam ranah spiritual atau bukan, tapi yang pasti, memimpikan sosok yang sama selama berbulan-bulan lamanya tentu saja mempengaruhi kehidupan saya secara perlahan. Saya jadi lebih familiar dengan sosoknya yang seakan saya kenal lebih jauh lewat dimensi lain. Mengenalnya dengan cara berbeda yang cukup aneh. Seperti ada semacam ikatan transparan tak kasat mata yang membuat sebuah pertalian antara saya dengan sosok tersebut. Mungkin memang benar hanya sepihak saja yang merasa, hanya saya saja, karena saya yang memimpikannya sendirian. Tapi tetap, itu menjadi pengalaman berbeda yang memberikan makna sendiri buat saya.

Dari beberapa jurnal ilmiah yang saya baca tentang interpretasi mimpi,  ada satu kesimpulan penting yang harus dipahami. Mimpi merupakan pengalaman paling individual yang dialami manusia. Jadi, jika kamu penasaran dengan makna dari mimpi yang dialami, hanya kamu yang bisa menerjemahkannya. Mimpi adalah proses simbolis, jadi jangan serta merta mengartikannya sama persis seperti yang kamu alami.  Kemampuan membaca simbol-simbol yang kamu lihat dari visualisasi monokrom itulah yang membuatmu dapat memahami apa makna yang terkandung di dalamnya.

Saya pun memiliki kesimpulan tersendiri tentang bagaimana mimpi terjadi. Entah menganggapnya spiritual atau sekadar bunga tidur, mimpi adalah wujud manifestasi komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri manusia. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh alam bawah sadar, yang selama ini mungkin ditekan oleh dirimu sendiri. Proses inilah yang menjadi sebuah komunikasi intens antara individu dengan dirinya sendiri. Dan apakah pesannya tersampaikan dengan baik atau tidak, kamulah yang memutuskannya lewat mencari tahu maknanya, atau membiarkannya berlalu begitu saja sebagai bunga tidur.

Jadi, meskipun sifatnya imajinatif, tidak bisa dipungkiri lagi mimpi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari manusia. Bisa juga dikatakan, mimpi adalah jembatan magis yang menghubungkan dunia realitas fisik yang kita alami saat ini dengan dimensi lain yang mungkin belum kita percaya keberadaannya. Dan tetap saja, buat saya mimpi menjadi salah satu rangkaian semesta yang masih menyimpan banyak misteri di dalamnya.

Selamat akhir pekan, mari bermimpi indah malam ini!

Don’t lie, bright eyes
Is it me that you see when you fall asleep?
Cause I know it’s you I dream about every night
Giving me a feeling like
Love in the summer
Way I’ve never felt with another
Don’t lie, bright eyes
Is it me that you see?
Tell me I’m not dreaming alone

(Dreaming Alone by Taka One Ok Rock feat. Against The Current)

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Mimpi, Jembatan Spiritual Antara Imajinasi dan Realita

  1. aku hanya sebel ketika mimpi lagi makan trus bangun. bentjik. apalagi kalau makan sesuatu yang memang lagi dipinginin.

    sepertinya itu juga yg membuat terjadinya mimpi ya. ada keinginan bawah sadar yang belum kesampaian.

    jadi ngga melulu tentang primbon dan angka SDSB.

    Like

    1. masalah mimpi sih percaya nggak percaya ya, tapi aku percaya selalu ada maknanya sih. seperti ada yang ingin dikomunikasikan pada kita dari alam bawah sadar. intrapersonal communication *eaaaa

      Like

      1. tapi emang iya sih. saking aku penasaran, kapan hari aku ke gramed pas peringatan hari buku nasional. nemu bukunya Sigmund Freud tentang tafsir mimpi jadi berasa kayak cenayang, ahahahaha. ya intinya memang ada sesuatu dg mimpi itu

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s