Self Talk

Life Partner, Have You Found The One?

Who doesn’t long for someone to hold
Who knows how to love you without being told

(Soulmate – Natasha Bedingfield)

Beberapa bulan menjelang Ramadan biasanya sih jadi momen paling pas untuk menyebar undangan pernikahan. Dan benar saja sih, dari bulan April-Mei ini ada banyak undangan resepsi yang mampir di tempat saya. Bukan bentuk fisik lagi yang kini sampai di tangan, tapi sudah lebih ke undangan virtual seperti poster yang dikirim via Whatsapp atau BBM hingga yang berupa website. Mei ini, ada beberapa orang teman saya yang resmi melepas status lajangnya. Salah satunya adalah teman sekantor saya.

Rasanya ikut bahagia dan deg-degan sekaligus saat melihat teman dekat akan segera menempuh kehidupan baru dengan status baru. Sebuah proses yang nggak mudah juga, karena saya tahu sebelumnya dia pernah menjalani hubungan jangka panjang dengan seseorang yang lain, kemudian berakhir begitu saja. Pengalaman yang sebenarnya sempat bikin saya jadi ikut insecure saat itu. Tapi pada akhirnya, jodoh memang nggak kemana-mana kok. Tuhan selalu punya pengganti yang jauh lebih baik.

Teman-teman seusia saya memang rata-rata sudah menikah sih. Saat mereka sedang asyik mengurus anak, saya justru masih senang bermain dengan Masha. Lalu pertanyaan “Kapan nyusul?” pun jadi hal yang sering berseliweran di sekitar saya, entah itu dari teman sendiri yang sekarang sedang mengandung anak kedua, atau dari keluarga saya. Apalagi memang usia pacaran saya dengan pasangan sudah hampir tujuh tahun yang mungkin sudah terlalu lama. Ah, tapi lama atau nggaknya itu relatif kok. Tujuh tahun pun dimulai saat kami masih sama-sama baru kuliah, jadi ya wajar kalau terasa lama.

Masa-masa seperti ini, ditanya kapan nikah, melihat perubahan status teman-teman yang kadang memunculkan keinginan dari dalam diri untuk segera menyusul, disebut sebagai intimidasi lingkungan sosial. Itu sih istilah yang diberikan pasangan saya. Awalnya, saya memang sempat merasa terintimidasi banget. Sering juga bertengkar dengan pasangan gara-gara mental yang terintimidasi ini. Untungnya sih saya cepat sadar kalau sedang khilaf. Jadilah seperti ini, setahun berlalu tanpa ada kebingungan kapan nikah. Saya percaya, jika sudah menemukan seseorang dan waktu yang tepat, semua rencana itu pasti akan segera terlaksana. Aamiin.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Orang yang tepat. Sebenarnya konsep ini masih abstrak banget sih buat saya. Bagaimana kita bisa tahu kalau seseorang itu orang yang tepat buat kita? Pertanyaan ini pun saya ajukan kepada teman kantor saya yang akan segera menikah itu. Lewat chat BBM di malam Minggu yang nganggur, saya bertanya padanya apa yang membuatnya bisa yakin kalau pasangannya adalah orang yang tepat. Jawabannya sederhana, hatinya tiba-tiba tergerak untuk yakin begitu saja. Keluarga kedua belah pihak pun sudah memberi restu.

Saya pun ingat dengan cerita seorang teman yang sudah menikah. Menjelang hari pernikahannya, saya sempat mendengar curhatnya tentang si calon suami. Apa yang membuatnya yakin untuk mau menjadi istrinya. Dia bilang, pasangannya itu mampu membuatnya merasa aman dan nyaman. Meskipun masa depan masih belum pasti buat mereka, tapi bersama pasangannya, dia yakin mereka mampu melalui segala kesulitan apapun. Jujur sih, mendengar kalimat ini beberapa tahun yang lalu rasanya seperti gombal banget buat saya. Paling karena dia lagi dimabuk cinta, gitu sih pikir saya dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, kata-kata teman saya itu ada benarnya juga sih. Kita nggak perlu kriteria yang terlalu muluk untuk mencari pasangan hidup. Rasa percaya saja sudah bisa jadi bekal untuk mengarungi bahtera kehidupan pernikahan.

Life partner atau pasangan hidup sebenarnya nggak memerlukan konsep yang muluk kok. Wajar saja sih kalau kamu mencari yang terbaik. Tapi kalian harus bisa saling mengisi satu sama lain. Manusia selalu memiliki kekurangan dan kelebihan, tapi saya percaya, orang yang pantas menjadi life partner-mu adalah yang ketika bersamanya kamu merasa begitu lengkap. Dia orang yang harusnya membuatmu percaya diri dengan kekurangan yang kamu miliki, bukannya malah membuatmu minder dan nggak berdaya. Lalu bersama-sama memperbaiki kekurangan yang ada.

140812322

Dia harusnya orang yang mengetahui sisi paling gelapmu dan tanpa mengeluh tetap berada di sampingmu. Dia adalah orang yang bisa kamu cintai dengan bebas sesuai dengan caramu, tanpa syarat ataupun aturan yang membuatmu merasa terkekang. Dia juga harusnya orang yang bisa kamu ajak berkelahi hingga berdarah-darah, membuatmu sanggup meluapkan semua amarah tanpa ada yang harus ditutupi, hingga sama-sama payah, lalu saling berpegangan tangan dan jatuh cinta lagi.

Dan yang paling penting, life partner seharusnya adalah orang yang membuatmu merasa nyaman. Nyaman karena dia bisa mencintaimu dengan takaran yang pas, tidak berlebihan apalagi kekurangan. Membuatmu bisa begitu lepas karena mencintai dan dicintai. Karena sehebat apapun rasa, tetap saja bisa perlahan sirna oleh rasa canggung yang muncul dari ketidaknyamanan.

Kalau kamu sudah menemukan orang itu, jangan buang waktu untuk mencari pilihan kedua ataupun ketiga. Dialah orangnya. Saya yakin dialah orangnya.

Advertisements

2 thoughts on “Life Partner, Have You Found The One?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s