Review

Saman, Buah dari Rasa Penasaran Selama 10 Tahun

Novel Saman karya Ayu Utami pasti sudah nggak asing lagi bagi para pegiat sastra Indonesia. Novel ini sempat booming beberapa dekade yang lalu. Populer karena dianggap menjadi salah satu pelopor sastra feminis di Indonesia. Saya sendiri baru mengenal novel ini 10 tahun yang lalu, sementara Saman sudah terbit sekitar tahun 1998.

Antara tahun 2005-2006 saya menemukan novel ini di perpustakaan pribadi milik saudara saya yang memang penikmat sastra. Saat itu saya masih menjadi gadis SMA yang hobi membaca novel dari genre apa saja, mulai dari teenlit yang menawarkan roman anak SMA, sampai Da Vinci Code, semua saya lahap dengan begitu nikmat.

Lalu, sampailah suatu hari saya tergerak untuk membaca Saman. Jujur sih, gaya bahasa Ayu Utami masih terasa asing untuk saya saat itu. Anak SMA yang belum terbiasa dengan gaya tulisan njlimet dan banyak ditambahi bunga-bunga kiasan yang sulit dicerna. Jadi nggak heran, membaca tujuh halaman pertama sukses membuat saya tertidur. Setelah itu, saya menjauhkan diri dari karya Ayu Utami dalam judul apapun.

Tapi, pemikiran manusia selalu mengalami perkembangan. Itu yang saya percaya banget sih. 10 tahun kemudian, bermodal Saman pinjaman dari teman kantor, saya sukses menamatkan novel itu. Motivasinya adalah untuk menyelesaikan yang belum selesai. Rasanya seperti tantangan banget kalau saya belum sukses menaklukan buku yang satu itu.

Dan setelah sukses menamatkannya, kesan saya terhadap novel ini hanya satu: complicated. Iya, novel ini adalah kompilasi dari berbagai masalah sosial yang dialami tanah air, pada masanya. Ceritanya mengangkat tema feminis, yang digambarkan lewat keempat tokoh wanita yang menjalin persahabatan. Pemikiran mereka memang mewakili gaya hidup masyarakat urban, dan Ayu sukses menggambarkannya tanpa memberi sensor apapun. Meskipun hal semacam ini masih dianggap sesuatu yang tabu dalam masyarakat.

Sisi mistis pun tak luput disematkan Ayu dalam karyanya lewat penggambaran masa lalu tokoh Wis alias Saman yang begitu kompleks. Kehidupan masa kecilnya seolah dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata. Bukan horror seperti saat menonton The Conjuring, sih. Tapi pada aura mistis yang bikin bulu kuduk merinding saat membacanya.

Saman, Buah dari Rasa Penasaran Selama 10 Tahun
Saman, Buah dari Rasa Penasaran Selama 10 Tahun via Indonesianhabit.blogspot.com

Iya, saya menganggap tokoh Saman ini terlalu kompleks. Manusia sederhana yang hidup di masa orba. Keinginan sederhana untuk memajukan masyarakat desa terpencil di Sumatera. Dan cintanya yang begitu sederhana yang kepada seorang gadis cacat mental.

Tapi justru kesederhanaan inilah yang mengantarkan Saman pada konflik yang sangat kompleks, yaitu tuduhan menyebarkan paham komunis yang sangat horror pada masa orba. Sesuatu yang bahkan menjadi bayangan ketakutan masyarakat zaman sekarang.

Periode kegelapan orde baru yang mencekam menjadi latar dari novel ini, dan menurut saya itulah salah satu sisi menariknya. Saya akui Ayu Utami mampu dengan lantang menyuarakan berbagai ketidakadilan yang terjadi di kalangan aktivis HAM pada masa itu. Tapi tetap, ada beberapa bagian yang saya anggap ganjil di dalamnya.

Sepertinya Saman diset untuk menjadi tokoh utama yang tidak membuat pembacanya jatuh cinta. Jadi, saya sukses tidak jatuh cinta kepadanya hingga lembar terakhir novel ini. Begitu pun keempat tokoh wanita lainnya. Meskipun ada cerita cinta yang nggak kalah kompleks antara Laila dan Sihar atau Saman dan Yasmin, tetap nggak ada tokoh yang membuat saya tergila-gila.

Saman, Buah dari Rasa Penasaran Selama 10 Tahun
Salah satu quote Ayu Utami dalam Saman via Jago Kata

Entah karena terlalu kompleks atau bertentangan dengan logika sederhana yang saya miliki, novel ini menimbulkan banyak pro kontra dalam pikiran saya sendiri saat membacanya. Tapi, bukankah sastra yang baik memang seharusnya bisa membuat pembacanya seolah berdialog dalam diri mereka? Sepakat atau tidak, toh novel ini sudah menjadi salah satu ‘prasasti’ nyata atas kejayaan Ayu Utami dalam sastra Indonesia.

Buat saya sendiri, berhasil membacanya merupakan suatu pencapaian sendiri. Seperti bukti kalau kecerdasan intelektual saya sudah berkembang lebih banyak selama 10 tahun belakangan ini.  Mungkin suatu hari nanti bisa juga membaca dan memahami karya sastrawan besar Indonesia lainnya. Karya milik Pramoedya Ananta Toer sudah pasti nggak boleh absen. Tapi sebelum itu, mari dibuka dengan novel Eka Kurniawan dulu yang bukunya masih saya nantikan untuk diantar kurir sampai di rumah.

Banyak membaca buku bagus itu perlu. Dengan demikian, kamu akan bisa menghasilkan sebuah tulisan yang bagus.

Advertisements

2 thoughts on “Saman, Buah dari Rasa Penasaran Selama 10 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s