cerpen

Pradnya

There are things that have to be forgotten if you want to go on living.

Kutipan kalimat Jim Thompson itu terus berputar dalam kepala Anya, entah sudah berapa lama. Tapi, tahukah kamu seberapa hebatnya perasaan manusia? Saat otakmu memerintahkan untuk melupakan sesuatu, hatimu dengan kejamnya berkhianat. Yang terjadi adalah sebaliknya. Kamu tak pernah bisa lupa, tapi juga tak bisa terus melangkah berjalan. Kamu hanya terdiam di tempat yang sama, tidak juga beranjak ke mana-mana.

Entah sudah berapa lama Anya terdiam di hadapan laptopnya, tapi matanya tak pernah sedetik pun mengarah ke sana. Pandangannya menerawang ke arah pantai yang terhampar tak jauh dari pondokan kecil yang sudah berbulan-bulan ini ia sewa menjadi tempat tinggal. Tapi pikirannya berada lebih jauh dari luasnya lautan tersebut. Terlalu jauh untuk bisa dikendalikan dengan kondisinya saat ini.

“Masih ngelamun aja Neng?”

Tersentak dari lamunannya, tanpa Anya sadari seorang pria kini sudah berdiri dengan bertopang kayu yang memagari gazebo pondokan tersebut. Dia berada tepat di belakang Anya sambil memperhatikan laptop yang menampilkan file dokumen yang masih putih bersih. Belum ada satu kata pun yang tertulis di sana.

Sambil tertawa menahan malu, Anya menutup laptopnya lalu berbalik menghadap pria tersebut.

“Iya nih, pemandangannya bagus banget sampai mengalihkan konsentrasi,” gombal, begitu batin Anya dalam hati setelah mendengar jawabannya sendiri. Dari sudut matanya, Anya bisa melihat pria tersebut berusaha menahan senyumnya. Pasti merasa geli mendengar kata-katanya tadi, begitu yang Anya yakini dalam hati.

“Kamu sendiri dari mana?” Anya memperhatikan pria tersebut yang tampak berkeringat. Dia hanya menggunakan kaus oblong polos, yang saking tipisnya memperlihatkan warna kulit kecokelatannya, bekas terbakar sinar matahari. Celana kulotnya yang memiliki panjang di bawah lutut terlihat basah sebagian.

“Tadi habis benerin perahu. Capek. Aku duduk sebentar, boleh?”

“Sini…” Anya menggeser duduknya di kursi kayu panjang yang ada di sana. Pria tersebut masuk ke dalam gazebo dengan melompati kayu yang tadi disandarinya. Kini mereka duduk bersebelahan.

“Coba lihat tulisanmu sudah sampai mana,” tiba-tiba dia sudah membuka kembali laptop Anya. Tapi, dengan sigap Anya segera menariknya.

“Eh, jangan! Ini rahasia tahu!”

“Rahasia atau memang belum ada yang bisa dilihat?” godanya sambil tertawa.

Anya memasang tampang wajah bersungut, “Rahasia. Kalau kamu baca terus kamu bocorin naskahku, kan bahaya,”

Pria itu masih tertawa, paham kalau jawaban itu hanya dibuat untuk mempertahankan harga diri gadis yang ada di sampingnya.

“Separah itu ya, writer’s block-mu?” tanyanya kemudian dengan tampang yang berubah serius.

Anya diam sesaat sambil memandang jauh ke lautan yang terlihat berkilauan oleh sinar matahari siang hari.

“Aku sendiri nggak paham kenapa,” jawabnya kemudian sambil tersenyum.

“Fokus, Pradnya. Fokus. Kalau ngelamun terus, kapan novel barumu terbit, heh?”

Pradnya. Anya selalu merasa kesal jika nama lengkapnya disebut. Pradnya adalah nama yang tertulis di setiap sampul novelnya. Nama yang mengingatkan kalau dia adalah seorang penulis yang sudah membaiat diri untuk menyelesaikan novel baru selama berada di tempat tersebut. Tapi tetap, tulisannya selalu terhenti di bagian yang sama.

“Kalau aku sudah dapat inspirasi, 3 bulan selesai kok,” katanya membela diri.

“Aku khawatir. Khawatir kamu nggak bisa bayar sewa pondokan ini sampai novelmu benar-benar selesai,” lalu pria itu tertawa lagi lebih keras dari sebelumnya.

“Sialan kamu. Tenang, aku masih punya uang kok,”

Pria itu berhenti tertawa, lalu raut wajahnya berubah lebih serius.

“Pradnya…”

Anya menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya, sementara dia menatap lurus-lurus ke depan.

“Mungkin jawaban dari hal yang kamu nggak tahu memang bukan di sini. Tapi di tempat lain.”

Di akhir kalimatnya, pria itu menatap jauh ke dalam mata Anya. Entah karena tatapannya barusan atau kata-kata sebelumnya, ada sesuatu yang terasa nyeri di dalam dada gadis itu. Tapi, sebelum dia berhasil mensinkronkan hati dan pikirannya kembali, pria itu sudah beranjak dari duduknya.

“Udah ya aku mau lanjut kerja. Kamu jangan ngelamun terus deh.”

Dia kembali melompati kayu yang memagari gazebo tersebut lalu berlari ke arah lautan. Menghilang dari pandangan Anya yang masih juga terdiam.

Pria itu bernama Rhama. Dia pemilik pondokan kecil tempat Anya tinggal selama berbulan-bulan belakangan ini. Rhama adalah salah satu dari sebagian besar penduduk desa di sekitar pantai yang berprofesi sebagai nelayan. Dia mungkin memang hanya seorang nelayan di sebuah desa terpencil di daerah Pangandaran. Tapi, Rhama memiliki wawasan yang luas dan selalu nyambung diajak ngobrol apapun. Rhama bahkan pernah membaca beberapa tulisan Anya yang laris manis di pasaran. Dia juga sosok yang misterius, begitu Anya beranggapan. Tak banyak hal yang diketahui Anya tentang Rhama, selain profesinya sebagai nelayan, pemilik pondokan yang kini disewanya, dan lahir di desa tersebut. Jika ditanya tentang hal lain, Rhama akan langsung mengalihkan pembicaraannya dengan lihai.

Pertemuan mereka terjadi begitu saja di suatu fajar, saat Anya baru tiba di pantai terpencil itu setelah malam panjang yang begitu menyesakkan. Anya jatuh cinta dengan fajar penuh kemerahan di sana, ombak lautnya, pasirnya yang lembut, lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tapi, hal yang paling ingin membuatnya tinggal adalah pondokan kecil yang ada di pinggiran pantai. Pondokan itu berdiri sendirian di bawah pepohonan yang rindang. Sendirian, jauh dari desa para penduduk yang berjarak sekitar 200 meter dari pantai. Saat itu juga Anya tahu dia butuh tempat itu untuk menenangkan diri. Untuk memberinya kesempatan menulis sesuatu.

Untuk pelarian.

Dan Anya memang benar-benar mengisolasi diri dari kehidupan lamanya sejak tinggal di sana. Dia hanya membawa laptop untuk menulis, tanpa smartphone. Sebelum bertemu tempat ini, Anya memang sempat mengutarakan keinginannya untuk break sejenak dari kegiatan menulis. Dia bahkan sudah menghubungi publisher-nya jika dia ingin menyendiri untuk sementara waktu.

Tapi begitu sampai di sana, di salah satu sudut terpencil di Pangandaran itu, Anya percaya kalau menulis di tempat itu bisa menjadi salah satu self healing yang dibutuhkannya. Dia memutuskan hidup sementara tanpa koneksi internet sama sekali, karena tak merasa perlu melakukan riset dari internet. Novelnya akan lahir dari pengalamannya selama tinggal di sana. Dari interaksinya dengan masyarakat di sekitar. Dia tak terhubung dengan media sosial. Juga dengan orang-orang yang tak ingin dihubunginya saat ini. Satu hal yang dia tahu saat pertama kali memutuskan tinggal di sana, Anya tahu dia hanya butuh bersama dirinya sendiri.

Hari sudah malam ketika Anya mendengar pintu pondokannya diketuk. Saat itu dia sudah berhasil menulis sesuatu dari dalam bilik pondok mungilnya. Anya beranjak dari duduknya, membuka pintu. Terlihat Rhama yang menyodorkan sebuah bungkusan hitam.

“Singkong goreng, Neng. Tadi kebun Bi Lilis panen.” Katanya saat membaca tanda tanya dari raut wajah Anya.

“Oh, ini buat aku?”

“Nggak, si Neng cuma kebagian baunya aja nih. Ya jelas ini buat kamu lah.”katanya sambil menyodorkan bungkusan itu kepada Anya.

Anya tertawa sambil menerima bungkusan tersebut. “Makan bareng yuk, sambil ngobrol.”

Setelah mengambil dua gelas air putih dari dalam, mereka berdua duduk berdampingan di kursi panjang di depan pondokan. Angin laut di malam hari bertiup cukup kencang memainkan rambut panjang Anya. Tapi nggak cukup mengusir titik-titik keringat yang muncul di dahi Rhama. Sesekali pria tersebut menyeka keringat dengan lengan kausnya yang sedari tadi siang belum diganti dan kini terlihat semakin lusuh.

“Kamu udah selesai benerin perahunya?” Anya membuka percakapan.

“Iya, dikebut tadi harus selesai, dini hari nanti mau melaut lagi,” jawab Rhama dengan mulut penuh singkong goreng.

“Ditelen dulu dong singkongnya, Rham…”

“Hahaha maaf, laper banget sih. Tadi ini juga bantuin Bi Lilis panen singkong. Makan dari hasil keringat sendiri enak juga ternyata ya, Neng.”

“Iya enak Kang Rhama, lebih gurih ya, campur keringat soalnya hahaha.”

Rhama ikut tertawa mendengar Anya menggodanya.

“Jadi gimana novelmu? Sepertinya tadi sudah mulai nulis lagi ya?”

“He eh,” jawab Anya sambil mengangguk. Dia meminum sedikit air putih dari gelasnya. “Sebenarnya cuma tinggal dikit.”

“Lalu?”

Anya diam sesaat, menarik napas cukup panjang.

“Aku lagi menulis sesuatu, tapi aku nggak tahu gimana mengakhirinya, Rham.”

Rhama menoleh, menatap gadis di sampingnya yang asyik melahap singkongnya. Selama berbulan-bulan tinggal di sini, Rhama memang sering mengobrol banyak hal bersama Anya. Mereka sering bertukar pikiran tentang apa saja. Tapi, Anya tak pernah benar-benar menceritakan apa yang terjadi pada dirinya hingga dia memutuskan tinggal menyendiri di sana. Dia hanya ingin menulis, begitu jawaban Anya jika Rhama bertanya.

Tapi, ada satu hal yang selalu Rhama tahu meskipun gadis itu tak pernah bilang apa-apa padanya. Rhama selalu tahu kalau pikiran Anya mengembara jauh meninggalkan tempatnya berada saat ini. Dia sudah tahu sejak pertama kali gadis itu datang ke desa tersebut, lalu mengemis minta menyewa pondokannya dengan harga yang cukup tinggi. Tapi bukan itu yang membuatnya sepakat menyewakan tempat tinggalnya. Dia tahu Anya sedang lari dari sesuatu.

“Kamu dengar nggak tadi siang aku bilang apa?” tanya Rhama kemudian.

Anya menoleh. “Hmm, yang mana?” dia balik bertanya dengan ragu.

“Mungkin yang kamu cari bukan di sini. Yang kamu cari selama ini ada di tempat lain. Kamu sudah cukup lama sembunyi di sini. Apa kamu nggak merasa kalau sekarang sudah waktunya kembali dan menyelesaikan apa yang belum selesai di sana?”

Rhama bisa melihat gadis itu menghela napas yang cukup dalam.

“Semua udah selesai kok, Rham…” ada keraguan yang kentara jelas dari kata-kata Anya barusan. Rhama tahu kalau dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.

“Yakin sudah selesai?” jeda sejenak di antara mereka. “Kalau kamu kembali, mungkin kamu tahu ending seperti apa yang ingin kamu tulis di novelmu, Pradnya.”

There are things that have to be forgotten if you want to go on living.

Malam ini Anya tak bisa tidur dan terus memikirkan kalimat tersebut. Delapan bulan ini dia berusaha mati-matian melupakan apa yang ingin dilupakan. Menjauh dari apa yang seharusnya dijauhi sejak dulu. Haruskah dia mendengarkan perkataan Rhama? Haruskah dia kembali ke masa lalunya, yang mungkin memang belum selesai?

Di suatu tempat yang lain, di tengah lautan yang luas, Rhama merasakan sebuah kegundahan yang dia tahu kalau tidak pada tempatnya. Gelisah itu nyata. Tapi, kejadian 3 tahun lalu masih terus menempel dengan kuat dalam ingatannya.

-bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s